Keresahan masyarakat terhadap perkembangan free sex sudah sampai pada kondisi darurat yang harus mendapatkan penanganan khusus dari berbagai pihak terutama tokoh agama, aktivis pendidikan, dan pemerintah yang mendapatkan amanah dari rakyat untuk menyejahterakan dan membahagiakan kehidupan warga-bangsanya. Hal inilah yang menjadi perhatian Komisi A DPRD Kota Probolinggo. Dalam sidak kali ini giliran kos-kosan yang mendapat perhatian. Banyaknya kos-kosan liar di Kota Probolinggo dianggap cukup mengkhawatirkan, sehingga peluang terjadinya aktivitas sex bebas sangatlah besar.

Dari hasil pantauan sidak ditemukan sejumlah kos-kosan yang tidak tertib, dengan tidak memisah antara penghuni kos wanita dengan pria. Seperti yang terjadi di dua kos-kosan di Jalan Serma, serta kos-kosan di Jalur Lingkar Utara. Di sana, penghuni kos wanita maupun pria, berbaur jadi satu. Penghuni kos pria maupun wanita bahkan berdempetan satu sama lain. Bahkan, ibu kos yang mestinya ada untuk mengontrol perilaku penghuni, justru tidak ada.

“Saya bersama anggota Komisi A pernah melakukan sidak ke lima kos-kosan. Dari lima tempat kos itu, hanya satu yang tertib. Sisanya, tidak tertib sehingga membuka pintu peluang perzinahan amat lebar. Itu sudah menjadi sampel dan menunjukkan, 90 persen tidak tertib dan berpeluang membuat penghuninya berzina. Jika terus dibiarkan, Kota Probolinggo terancam darurat free sex,” ujar anggota Komisi A, Abdul Aziz, Minggu (2/2).

Selain itu, banyaknya masyarakat urban yang bekerja di Kota Probolinggo, yang kebanyakan belum berkeluarga, turut mendukung peluang terjadinya free sex. Karena itu, Komisi A mendesak agar Pemkot Probolinggo mengawasi dengan ketat kos-kosan yang ada di Kota Probolinggo, yang masyarakatnya agamis ini. Apalagi, Kota Probolinggo diprediksi akan lebih ramai dengan kehadiran pelabuhan. (md)

Leave a Reply

Your email address will not be published.