KOMISI I RDP DENGAN DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PANTAU PEMBELAJARAN SISWA DI RUMAH (DARING)

Probolinggo—sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus Covid-19 pembelajaran siswa-siswa sekolah mulai beralih dari tatap muka menjadi pembelajaran dari rumah (daring). Komisi I DPRD Kota Probolinggo yang membidangi pendidikan merasa perlu melakukan pengawasan terkait pelaksanaan pembelajaran daring ini. Melalui teleconference dengan aplikasi zoom cloud meeting, Komisi I melaksanakan rapat dengar pendapat dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (8/3).

Melalui teleconference ini Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Maskur menjelaskan tetap menjadwal supaya sekolah-sekolah tidak kosong dan menjaga kebersihan. Melalui pembelajaran daring ini akan ada interaksi antara guru dengan peserta didik.

Maskur juga menjelaskan terkait penilaian bagi peserta didik yang berada di kelas 6 dan 9. Petunjuk dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa UNAS di tahun 2020 ini ditiadakan dan syarat penentu kelulusan siswa dalam masa darurat penyebaran Covid-19 yaitu dengan menggelar ujian sekolah yang diselenggarakan secara online. Sehingga siswa tidak perlu hadir secara fisik. “Apabila sekolah tidak siap mengadakan ujian jarak jauh maka dengan mempertimbangkan portofolio nilai rapor dan prestasi siswa yang diperoleh sebelumnya. Selain itu bisa juga dilihat melalui penugasan jarak jauh”, jelasnya.

Terkait pendaftaran peserta didik baru (PPDB), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo sudah menyiapkan draft Perwali sambil menunggu ketentuan dari Kemendikbud. Apabila ketentuan PPDB seperti tahun lalu yaitu 50 persen zonasi, 30 persen prestasi, kemudian afimasi akibat perpindahan tugas orang tua. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga menyiapkan strategi supaya jalur prestasi terpenuhi. Jika di tahun lalu jalur prestasi melalui prestasi dari lomba-lomba baik di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi maupun nasional, kali ini akan dilebarkan menjadi 2 macam yaitu bukan hanya dari capaian hasil lomba tetapi juga dari hasil belajar harian yang diambil dari rata-rata raport. Sehingga tidak akan ada rekayasa karena ketika mendaftar cukup memperlihatkan nomor induk siswa maka akan terlihat data dari siswa tersebut.

Salah satu anggota Komisi I, Ellyas Aditiawan mengatakan metode pembelajaran daring sejauh ini dapat berjalan lancar, hanya saja jangan sampai terlalu banyak tugas yang mengkibatkan peserta didik menjadi tertekan dan stres. Informasi yang beredar yaitu terkait penggunaan beberapa gedung sekolah untuk tempat karantina. “Bagaimana kesiapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah menyiapkan 5 sekolah untuk menjadi tempat karantina?”,tanya Ellyas.

Maskur menanggapi dengan mengatakan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melihat guru-guru terlalu bersemangat sehingga peserta didik bebantugasnya menjadi banyak sehingga niatan untuk karantina di rumah menjadi terganggu karena peserta didik cenderung untuk belajar kelompok. Terkait dengan karantina yang menggunakan gedung sekolah, langkah ini dibatalkan oleh Sekretaris Daerah dan diputuskan menggunakan satu gedung sekolah di SMKN 2.

Sekretaris Komisi I, Syaiful Rohman juga bertanya tentang langkah-langkah yang dilakukan untuk meringankan beban tugas siswa dan mensubsidi orang tua yang membutuhkan biaya.

Tentang hal tersebut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah mengingatkan kepada guru untuk mengurangi beban tugas bagi siswa. Skema bantuan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kepada orang tua untuk bantuan pulsa belum ada dan belum diputuskan. Hanya saja ada variasi dari para guru terutama guru SD untuk menghemat pulsa peserta didik maka bisa menulis di kertas yang kemudian di foto dan mengirimkannya melalui Whatsapp ketika sudah memiliki pulsa sehingga tidak harus di hari etrsebut untuk menyetor. (md)