Di awal tahun 2014 ini, Komisi A membukanya dengan melaksanakan kegiatan RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Kemenag setempat dan lima KUA se Kota Probolinggo. Topik yang dibahas cukup hangat di masyarakat yakni mengenai biaya pencatatan nikah di Kantor Urusan Agama (KUA).

Secara resmi biaya pencatatan nikah hanya sebesar 30 ribu, tetapi di kenyataan di lapangan biaya tersebut membengkak dengan tarif yang beragam. Fakta ini terungkap dalam RDP kemarin, Selasa (7/1), yang dimulai dengan angka Rp 150 ribu, Rp 250 ribu, bahkan ada yang sampai 500 ribu.

Pembengkakan tarif terjadi ketika calon pengantin mendaftar nikah ke KUA melalui jasa pembantu pegawai pencatat nikah atau yang sering disebut modin. Pembengkakan tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti biaya wara-wiri modin sampai ke pengurusan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama bagi calon pengantin yang masih dibawah umur. Nah, dispensasi inilah yang membuat tarif melambung tinggi hingga Rp 500 ribu.

Kasi Binmas Islam Kemenag Kota Probolinggo, Dawam Ichsan mengatakan, sebelum menjadi modin, orang-orang tersebut telah membuat surat pernyataan tidak akan menuntut gaji dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Oleh karena itu modin yang ada di setiap Kelurahan tidak mendapat gaji dari Kemenag maupun Kelurahan tempat mereka bertugas.

Dalam RDP tersebut KUA juga disentil tentang ada tidaknya setoran dari modin kepada mereka dari pembengkakan biaya tersebut, namun hal tersebut langsung ditepis oleh lima Kepala KUA se Kota Probolinggo. Dari sinilah kemudian terungkap tarif Rp 250 ribu yang umum di masyarakat, selain digunakan untuk biaya resmi menikah sebesar Rp 30 ribu, juga digunakan untuk buku-buku dan majalah sebesar Rp 50 ribu serta Rp 170 ribu ke saku modin.

Sementara itu, kebijakan Menteri Agama yang melarang pelayanan pencatatan nikah di luar kantor dan di luar jam dinas untuk menghindari munculnya biaya lain di luar yang resmi, ditanggapi berbeda oleh KUA di Kota Probolinggo, ada yang mematuhi dan ada yang berjalan seperti biasa. Seperti KUA Wonoasih yang tidak lagi melayani dua-duanya. Sedangkan KUA Mayangan masih melayani di luar kantor namun tidak diluar jam dinas. Dan KUA Kedopok, Kademangan dan Kanigaran masih berjalan seperti biasa. (md)

Leave a Reply

Your email address will not be published.